Tiduran santai mengadah ke atas dengan sudut kira – kira 45 derajat sembari mencetin remote TV nyari chanel yang menarik buat saya tonton. Setelah sekian banyak saya pindah – pindah chanel akhirnya pun saya menemukan chanel yang menarik buat saya tonton, yang beruntung kali ini adalah Discovery Chanel. Kala itu program “Gunsmoke” di Discovery Chanel menarik perhatian saya, program tentang cara pembuatan pistol klasik secara profesional di kemas secara eksplisit dan apa adanya dengan sentuhan “reality show” serta memasukkan sisi konflik untuk mempersilakan sedikit adrenalin agar program ini menarik untuk di tonton. Sebenarnya program ini biasa – biasa saja seperti program televisi mainstream, namun yang menarik adalah bagaimana pembedahan detail terhadap tema yang menjadi benang merah dari program ini yaitu dalam hal pembuatan pistol klasik khas Amerika punya. Bagaimana orang disana (Amerika) membuat sebuah program televisi bernilai edukasi dapat menghibur khalayak yang menontonnya, yang mendapat sorotan penting dalam kacamata saya yaitu adalah efek yang di timbulkan dari program televisi tersebut terhadap khalayak yang menontonnya. Doktrinasi komersialitas dengan bumbu idealis menyebabkan setiap khalayak yang mengkonsumsi acara televisi untuk mengikuti perilaku yang di sajikan oleh setiap program televisi, memang banyak hal negatifnya juga namun saya mengambil sisi positif bagaimana sebuah program televisi menumbuhkan cita – cita di dalam benak setiap khalayaknya. Wajar saja mereka lebih maju dalam apapun setidaknya selangkah lebih maju dari kita (orang Indonesia), karena program televisi yang mereka konsumsi pun mempunyai nilai edukasi yang dapat menumbuhkan cita – cita setiap khalayak yang menontonnya., menurut saya ini adalah kesuksesan besar sebuah perusahaan media dalam hal mempengaruhi khalayak.
Bandingkan saja dengan program televisi disini (Indonesia) yang menitikberatkan hiburan belaka di bandingkan nilai edukasi meski ada beberapa program televisi yang bernilai edukasi tapi itu hanya untuk anak – anak selebihnya konsumsi untuk dewasa adalah hiburan semata. Mungkin kesadaran disini sangat kurang dalam hal mengapresiasi ilmu pengetahuan entah itu melalui media cetak ataupun elektronik, wajar saja kita menjadi korban doktrinasi mainstream program televisi disini dan hal tersebut mempengaruhi perilaku kita sehari – hari. Saya yakin orang Indonesia itu sudah pintar tinggal kesadaran dan mentalitas saja yang mesti di tumbuhkan bahwa media itu bisa dijadikan alat untuk mendapatkan pengetahuan. Semoga kita menjadi lebih bijak lagi dalam mengarungi era dimana ruang dan waktu bukan menjadi batasan.