Akhirnya ada waktu juga buat nulis, setelah sekian lama mengumpulkan mood untuk menulis dan ternyata memang harus dipaksakan agar bisa menulis :D. Internet, ya internet yang selalu setia menemani dimanapun kapan pun menjadi sebuah jendela informasi yang meniadakan batas ruang dan waktu. Arus informasi yang cepat begitu juga kita dengan cepat mengadopsi budaya dari luar negri kita tercinta Indonesia karena pengaruh informasi tersebut. Internet seperti candu dan dapat menimbulkan efek yang berbeda pula seiring motivasi yang berbeda pula user dalam menggunakan internet. Mungkin itu prolog yang bisa dikatakan tidak nyambung dengan apa yang akan saya bahas sekarang he..he…
Masih di dunia suka – suka kali ini saya tertarik dengan yang namanya Mie Ramen, pasti sudah pada tahu khan makanan khas jepang yang terbuat dari mie. Yap tidak terbantahkan lagi invasi budaya luar sudah memasuki bumi ibu pertiwi kita mencoba menancapkan benderanya di tanah air kita (lebay haha). Inilah efek era globalisasi atas nama bisnis saudara pribumi kita pun mencari banyak ide untuk mencari keuntungan meski menggunakan objek budaya asing, ya ya ya hak asasi manusia menjadi sebuah alat pembelaan dan itu pasti he..he.. Kita kembali ke mie ramen, sebenernya rasa mie ramen tidak begitu istimewa (pada lidah saya) meski saya bukan seorang pakar kuliner tapi yang namanya rasa tidak bisa bohong. Mungkin juga karena saya tidak terbiasa dengan masakan asal jepang ini, mencoba makan mie ramen menjadi sebuah hal yang baru bagi saya, uniknya mie ramen kita bisa memesan dengan level pedas yang kita inginkan (sayangnya tidak ada level 7 hehe). Setelah saya mencoba memakan mie ramen ya berkesan biasa saja dan masih tidak bisa mengalahkan mie ayam asli made in Indonesia. Mie ayam makanan khas produk alkulturasi budaya cina dan pribumi cuman bedanya mie ayam ini telah mengakar selama ratusan tahun dan menjadi makanan khas orang Indonesia dan uniknya saya tidak pernah bosan dengan mie ayam di mana pun di sudut kota maupun pedesaan pasti ada yang jual mie ayam. Memang militan banget tukang mie ayam ampe di mana – mana ada yang jualan hehe, karena sifat militanisme tukang mie ayam ini saya pun masih terus setia sama mie ayam di bandingkan mie ramen yang begitu asing di lidah saya. Kalau masalah kuliner saya bisa kasih nilai seratus untuk semua makanan Indonesia karena kenapa? Jawabannya karena kita punya rempah – rempah yang bisa membuat makanan Indonesia rasanya menjadi emejing pisan hehe. Simpelnya lewat tulisan ini saya ingin berbagi pandangan saya terhadap budaya asing terlebih itu terhadap produk kuliner juaranya masih milik makanan Indonesia, tuh lihat rendang, nasi goreng dan sate saja masih bercokol di 5 besar makanan terenak di dunia nah kalo ini ramen no berapa ya? Hehe. Sebenarnya boleh juga kita menikmati makanan khas luar (asing) balik lagi sama yang namanya hak asasi, semua itu hak orang lain tapi coba bayangkan kalau kita terlalu doyan sama mie ramen tukang mie ayam sepi yang beli dong?!. Intinya kita sebagai generasi muda wajib melestarikan budaya nusantara khususnya makanan, jangan terlalu melestarikan budaya latah karena kata bapak dosen sosiolog dan kebudayaan dapat menimbulkan krisis identitas. Semoga kita tumbuh menjadi pribadi yang mempunyai identitas yang jelas (punya KTP hehe). Sekian……….
enak bgt sumpah
*salaman