Anak kecil itu bermain di galangan sawah.
Pagi hari, ketika matahari mulai menyapa dengan cahayanya, matanya sesekali tertuju ke arah utara. Di kejauhan terlihat gagah Gunung Galunggung, berdiri dengan tenang seolah tidak pernah berubah. Cahaya matahari perlahan menyinari bagian tubuhnya, membuat gunung itu terlihat semakin jelas.
Dulu, saya tidak pernah berpikir bahwa suatu hari saya akan mencoba mendaki sampai ke bagian tertingginya.
Waktu itu saya hanya seorang anak kecil yang bermain di sawah.
Gunung Galunggung hanyalah pemandangan yang setiap pagi bisa dilihat begitu saja.
Sedikit menerawang kenangan masa kecil, ketika sawah di pinggir rumah masih ada. Hampir setiap pagi sebelum berangkat sekolah, saya selalu sempat memandang ke arah Gunung Galunggung.
Tidak ada yang istimewa saat itu.
Tidak ada niat untuk mendaki.
Tidak ada keinginan untuk mencapai puncaknya.
Hanya melihat.
Hanya menikmati pemandangan yang setiap hari ada di depan mata.
Namun waktu ternyata berjalan begitu cepat.
Sawah yang dulu menjadi tempat bermain sekarang sudah berubah menjadi rumah-rumah penduduk. Pemandangan yang dulu begitu mudah dinikmati perlahan menghilang.
Dan mungkin karena itulah, tanpa saya sadari, Gunung Galunggung justru semakin punya tempat tersendiri dalam ingatan.
Sebuah pemandangan dari masa kecil yang sekarang tidak lagi bisa saya lihat dengan cara yang sama.
Ada Keinginan yang Ternyata Tidak Pernah Hilang
Entah sejak kapan keinginan itu muncul.
Saya ingin melihat Galunggung dari tempat yang berbeda.
Bukan lagi dari bawah.
Bukan lagi dari jalan.
Bukan lagi dari kejauhan seperti ketika masih kecil.
Saya ingin sampai ke atas.
Saya baru kemudian tahu bahwa Galunggung memiliki beberapa puncak, dan salah satu yang tertinggi adalah Beuti Canar.
Sejak mengetahui itu, muncul rasa penasaran.
“Seperti apa ya, pemandangan dari sana?”
Pertanyaan sederhana itu ternyata cukup lama tinggal di kepala.
Ada keinginan untuk mencobanya, tetapi selalu saja ada alasan untuk menunda.
Mungkin belum waktunya.
Mungkin belum ada kesempatan.
Mungkin nanti.
Sampai akhirnya saya berpikir, kalau terus menunggu “nanti”, bisa jadi keinginan itu tidak pernah benar-benar terlaksana.
Jadi kali ini saya mencoba berangkat.

Berangkat dengan Perasaan yang Campur Aduk
Saya tidak berangkat dengan perasaan seperti seorang pendaki yang sudah sangat berpengalaman.
Justru ada sedikit rasa penasaran sekaligus khawatir.
Seberapa jauh?
Seberapa berat?
Apakah saya kuat sampai atas?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu muncul sepanjang perjalanan.
Tetapi ada satu hal yang membuat saya terus berjalan.
Saya ingin melihat sendiri tempat yang selama ini hanya ada dalam bayangan.
Perjalanan dimulai.
Awalnya semuanya masih terasa ringan.
Langkah masih semangat.
Badan masih segar.
Dan tentu saja kamera atau handphone masih sering dikeluarkan untuk mengabadikan perjalanan.
Namanya juga baru mulai.
Belum terasa capek.

Tetapi semakin jauh berjalan, suasana mulai berubah.
Suara kendaraan semakin jauh.
Rumah-rumah mulai tidak terlihat.
Yang tersisa hanya jalan, pepohonan, suara angin dan langkah kaki.
Di situ saya mulai merasa bahwa perjalanan ini memang benar-benar berbeda.
Saya sedang meninggalkan suasana yang biasa saya temui sehari-hari.
Ketika Kaki Mulai Mengeluh
Ada satu hal yang mungkin selalu sama dalam perjalanan menuju gunung.
Di awal kita merasa kuat.
Beberapa waktu kemudian mulai bertanya-tanya, “Masih jauh?”
Begitu juga saya.
Tanjakan demi tanjakan mulai terasa.
Napas mulai lebih berat.
Kaki mulai terasa pegal.
Beberapa kali saya berhenti untuk sekadar mengambil napas dan minum.
Menariknya, justru ketika berhenti seperti itu saya bisa lebih menikmati sekitar.
Tidak ada yang harus dikejar.
Tidak ada yang memaksa harus sampai dalam waktu tertentu.
Hanya berjalan sesuai kemampuan.

Saya kemudian berpikir, mungkin perjalanan ke gunung memang bukan soal siapa yang paling cepat.
Tetapi siapa yang mau terus melangkah ketika mulai merasa ingin berhenti.
Dan ternyata kalimat sederhana itu cukup membantu.
Jadi saya berjalan lagi.
Pelan-pelan.
Satu langkah.
Kemudian satu langkah lagi.
Galunggung yang Selama Ini Saya Kenal Ternyata Berbeda
Semakin masuk ke dalam, saya mulai melihat Galunggung dari sisi yang selama ini tidak pernah saya lihat.
Selama bertahun-tahun saya mengenal Galunggung hanya sebagai sebuah gunung yang terlihat dari kejauhan.
Sekarang saya berada di dalamnya.
Ada hutan.
Ada jalur yang menanjak.
Ada tanah yang licin.
Ada akar-akar pohon.
Ada suara angin yang sesekali terdengar cukup jelas ketika suasana sedang sepi.

Dan di tengah perjalanan itu saya kembali teringat masa kecil.
Anak kecil yang dulu berdiri atau bermain di sekitar sawah, memandang sebuah gunung yang terlihat begitu jauh.
Tidak pernah terpikir bahwa bertahun-tahun kemudian, anak itu akan berjalan mendaki gunung yang sama.
Hanya saja kali ini bukan untuk melihatnya.
Tetapi untuk mendatanginya.
Sampai di Beuti Canar
Ada rasa lega ketika akhirnya perjalanan menuju puncak mulai mendekati akhir.
Capek sudah pasti.
Kaki sudah tidak sesegar ketika berangkat.
Tetapi rasa penasaran justru semakin besar.
Saya ingin segera melihat seperti apa Beuti Canar.
Dan ketika akhirnya sampai…
Saya hanya diam sebentar.
Mungkin karena bingung harus berkata apa.
Mungkin juga karena sedang mencoba menikmati momen tersebut.

Saya berdiri di sana dan melihat ke sekitar.
Kemudian tanpa sadar pikiran kembali ke masa lalu.
Ke sawah yang dulu masih ada.
Ke pagi-pagi sebelum sekolah.
Ke pemandangan Gunung Galunggung yang dulu terasa biasa saja.
Lucu juga kalau dipikir.
Dulu saya melihat gunung itu dari bawah dan tidak pernah membayangkan akan sampai ke sini.
Sekarang saya berdiri di atasnya dan melihat kembali ke bawah.
Rasanya seperti melihat sebuah bagian dari masa kecil dari sudut pandang yang berbeda.
Ternyata Puncak Bukan Akhir dari Perjalanan
Selama ini saya selalu berpikir bahwa hal paling menyenangkan dari mendaki gunung adalah ketika sampai di puncak.
Ternyata tidak sepenuhnya benar.
Puncak memang menyenangkan.
Tetapi perjalanan menuju puncak justru memiliki cerita yang jauh lebih banyak.
Ada rasa capek.
Ada rasa ragu.
Ada rasa ingin menyerah.
Ada obrolan sepanjang perjalanan.
Ada berhenti untuk minum.
Ada melihat pemandangan.
Ada mengambil foto.
Ada momen ketika kita hanya diam dan menikmati suasana.
Semua itu tidak akan terasa kalau kita hanya melihat foto puncaknya saja.

Karena sebenarnya bukan hanya puncak yang ingin kita ingat.
Kita ingin mengingat perjalanan untuk sampai ke sana.
Duduk Sebentar, Menikmati Galunggung dari Atas
Setelah sampai di puncak, saya tidak ingin buru-buru pergi.
Saya memilih duduk sebentar.
Melihat pemandangan.
Menikmati angin.
Membiarkan tubuh beristirahat setelah perjalanan yang cukup menguras tenaga.
Di saat seperti itu, saya merasa perjalanan ini memang layak dilakukan.