Tanggal 29 Oktober 2013 Jam 16.20 masih terjebak hujan, sementara itu perut sudah tidak bisa berkompromi lagi. Sabar mungkin pengobat lapar saat ini, apa daya tidak mampu daripada air membuat pakaian ini menjadi basah mending menunggu dengan sabar sampai hujan berhenti mencurahkan perasaannya kepada tanah. Ya hujan itu berkah untuk kita semua, coba bayangkan saja bila tidak ada hujan mungkin tidak ada kehidupan di dunia ini tanpa hujan (tidak menampikkan peran Tuhan). Hujan sebuah hasil karya-Nya menghasilkan air yang menjadi sumber kehidupan di dunia ini. Kadang kala segelintir orang mengumpat kepada hujan, mungkin karena hujan urusan duniawi mereka menjadi terhambat, ya seperti pisau bermata dua ataupun koin bermata dua. Hujan hanya sebuah objek persepektif di kala manusia harus berhadapan dengan hujan dan saya yakin perbedaan pendapat yang di dukung dorongan kebutuhan terhadap sesuatu akan mendapatkan eek yang berbeda – beda, ada yang bersyukur malah ada yang mengumpat pula karena hujan. Saya hanya bisa tersenyum dan menikmati hujan di kala ini karena saya yakin hujan adalah berkah yang mesti di syukuri. Apapun segala urusan duniawi kita tidak akan terhambat oleh hujan karena hujan datang untuk di nikmati meskipun sejenak. Berfikir dari satu sisi yang lain membuat perbedaan di dalam memaknai sebuah kejadian ataupun fenomena dan saya belajar dari hujan.
(Melihat) hujan
Related Posts
Satu Hari Cukup! Membedah Trend Tektok Gunung: Solusi Praktis atau Bikin Lelah?
Pernahkah kamu melihat postingan Instagram atau TikTok seorang teman yang jam 6…
Mengungkap Mitos Audiophile: Fakta atau Ilusi?
Pernah nggak, ngeliat seseorang dengan serius debat kusir soal kenapa kabel AUX…
Su(o)bjective
Sekedar berbagi pemikiran saja, akhir – akhir ini atmosfir di dalam media…
